Dijiplak Habis, Facebook Tuntut StudiVZ

Salah satu raksasa situs jejaring sosial asal Amerika Serikat Facebook menyatakan kekecewaannya atas peniruan ide, fitur, dan tampilan situsnya oleh salah satu situs serupa asal Jerman StudiVZ.

“Sesungguhnya kami benar-benar kecewa dengan studiVZ. Apa yang mereka lakukan tidak menghargai kreativitas kami,” kata Deputy General Counsel Facebook Mark Howitson, seperti disitat Geek, Sabtu (26/7/2008).

Pendiri StudiVZ Ehssan Dariani beberapa waktu lalu mengaku ketika diluncurkan pada Oktober 2005 silam, dirinya kagum pada Facebook. Sejak itu dia bersama kedua temannya, mulai melakukan model pengembangan yang merujuk pada situs jejaring sosial asal Amerika Serikat tersebut.

Model itu tersebut ternyata berkembang hingga tampilan StudiVZ benar-benar identik dengan Facebook. Bahkan sejumlah besar pelajar di Jerman menyebut StudiVZ sebagai fakebook, sebuah kata plesetan dari Facebook.

“Sebelumnya, saya hanya ingin membuat situs kosmetik, tapi gagal. Akhirnya saya menemukan inspirasi untuk membuat situs jejaring sosial setelah melihat Facebook dan MySpace,” aku Dariani.

Dengan modal 5.000 euro, atau setara dengan USD7.960, Dariani mampu membangun situs StudiVZ sampai menjadi sebuah situs jejaring sosial terbesar di Eropa hanya dalam hitungan bulan.

Kabarnya Facebook telah melayangkan gugatannya pekan lalu dengan menyebut studiVZ menjiplak habis tampilan dan layanan Facebook.

Sementara itu, sejumlah pelaku industri justru menghargai apa yang telah dilakukan StudiVZ dengan menyudutkan Facebook yang terlalu lama menyediakan versi internasional. Bahkan Facebook baru merilis versi Jerman Maret silam.

Gugatan itu pun disikapi Chief Executive studiVS Marcus Riecke dengan pembelaan. Dia mengatakan tuntutan Facebook itu tidak berdasar, yang mana kemudian dia memberikan amsal, “jika tidak mampu mengalahkan, lalu sampaikan tuntutan.”

StudiVZ, yang merupakan singkatan dari Studienverzeichnis atau direktori pelajar dalam bahasa Indonesia, kini sudah dapat terlanjur besar karena kabar terakhir menyebutkan bahwa terdapat sekira 10 juta anggota studiVZ yang terdaftar di Jerman, Austria dan Swiss, yang mana setiap pekannya jumlah anggotanya bertambah sekira 100 hingga 1.000 user.

MySpace Vs Facebook, Makin Sengit


Dua situs jaringan sosial terbesar dunia, yaitu MySpace dan Facebook, terlibat persaingan semakin sengit untuk meningkatkan jumlah pengguna.

Kedua situs itu berusaha merangkul sebanyak mungkin pengguna agar mampu mengeruk sebanyak mungkin pendapatan iklan. MySpace mengaku memiliki sekitar 115 juta pengguna. Agar para pengguna MySpace tidak beralih ke situs jaringan sosial yang lain, MySpace kini bergabung dengan aliansi OpenID.

Ketika MySpace sudah bergabung dengan OpenID,maka para pengguna MySpace dapat menampilkan profil online mereka di situs situs jaringan sosial lain tanpa harus lebih dulu mendaftar ke situs jaringan sosial non-MySpace itu.

“Kami berharap ini mampu meningkatkan manfaat MySpace. Sebab, pengguna tetap bisa memanfaatkan MySpace, bahkan ketika tidak berada di MySpace. Dengan ini, pengguna MySpace bisa selalu membawa pergi teman temannya,” ujar Senior Vice President of Technology MySpace Jim Benedetto. Agar pengguna semakin setia, MySpace juga membuka dua situs baru, yaitu situs komunitas film Flixster dan situs pemantau event Eventful.

Kedua situs itu mampu mentransfer informasi ke profil pengguna MySpace. Tidak hanya itu, MySpace juga berupaya meningkatkan kesetiaan pengguna dan merangkul pengguna baru dengan membangun toko musik online. Toko itu bernama MySpace Music.

MySpace bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan rekaman musik terbesar dunia seperti Sony BMG Music Entertainment, Universal Music Group, dan Warner Music Group untuk mewujudkan toko musik online tersebut.

“Kami melihat musik sebagai wilayah tempat kami melakukan sesuatu yang besar dan bersejarah. Kami berencana mengubah total industri musik dunia,” ujar Chief Operating Officer MySpace Amit Kapur. Toko musik MySpace tersebut akan menjual musik untuk didownload.

Musik itu bebas disalin ke berbagai alat elektronik karena tidak dilengkapi sistem pencegah pembajakan DRM (digital rights management). Di samping itu, toko musik MySpace juga akan menawarkan nada dering ponsel, tiket konser musik,dan merchandise band-band musik.

Lebih dari itu, toko musik MySpace juga akan menyediakan musik dan video yang dapat dinikmati gratis melalui streaming. Namun, layanan streaming musik dan video tersebut disisipi iklan. Melihat ancaman pesaing terbesarnya, Facebook tidak tinggal diam.

Facebook berupaya membuat pengguna betah berada di situs itu dengan memberikan kendali lebih besar kepada pengguna sekaligus meningkatkan level sekuriti. “Pengguna harus memiliki kendali atas informasi. Termasuk di mana dan kapan pengguna mengakses informasi itu dan dengan siapa pengguna bisa berbagi informasi tersebut,” papar Head of Platform Product Management Facebook Ben Ling.

Pada Facebook yang baru, pengguna memperoleh halaman web yang lebih bersih dan simpel. Profil pada halaman itu dapat ditata menjadi halaman-halaman tab, untuk berbagi sekilas informasi dengan rekan atau kolega.
“Perubahan pada Facebook ini signifikan. Baik dalam menampilkan informasi maupun dalam melindungi informasi. Namun pada tahap awal, perubahan ini terasa sedikit aneh bagi pengguna,” ungkap analis firma riset Gartner Inc Ray Valdes. Facebook meningkatkan level sekuriti, dengan memungkinkan pengguna membatasi tampilan informasi, karena para penjahat cyber kini semakin agresif mencari korban di situs jaringan sosial dan ‘menunggangi’ situs-situs itu.

Statistik industri mengungkap, keanggotaan Facebook meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2007. Pada periode yang sama, keanggotaan MySpace bertumbuh 30 persen. MySpace kini masih menjadi situs jaringan sosial terbesar dunia. Pada saat ini, satu dari empat penduduk AS adalah anggota MySpace.

“Manusia adalah makhluk sosial dan situs jaringan sosial memungkinkan menyalurkan insting sosial kami.Karena itu, popularitas situs jaringan sosial meningkat pesat,” papar Kepala Virtual Human Interaction Lab Stanford University Profesor Jeremy Bailenson. Bailenson menjelaskan, daya tarik kuat situs jaringan sosial adalah situs tersebut membebaskan pengguna berinteraksi sebagai sebuah figur ideal.

Di dunia maya, seseorang bisa memilih umur berapa pun dan memilih jenis kelamin apa pun sekaligus berinteraksi dengan miliaran orang. Bailenson menciptakan sebuah model digital tiga dimensi yang dapat digunakan pengguna internet mengungkapkan ekspresi. Pengguna dapat memerankan tokoh apa pun yang disukai dan berinteraksi dengan komunitas. Namun, sistem interaksi yang diciptakan Bailenson tersebut kini masih diuji di laboratorium, belum dirilis ke publik.

“Orang menyukai komunitas virtual karena di sana mereka merasa tidak pernah bisa mati. Minat terhadap komunitas online meningkat karena harga komputer menjadi semakin terjangkau dan koneksi internet menjadi semakin cepat. Semua orang sudah memiliki komunitas online, bukan hanya ahli komputer,” ujar Bailenson. (Okezone)

Tinggalkan Balasan